Prediksi Ramalan Inflasi Nasional Indonesia Tahun 2011

Prediksi Ramalan Inflasi Nasional Indonesia Tahun 2011 - Banyak hal yang menjadi penyebab laju Inflasi. Melambungnya ekspektasi inflasi 2011 telah jadi momok bukan hanya di pasar modal tapi juga sektor riil. DPR bahkan membentuk Pansus Inflasi. Inilah berbagai ramalan inflasi 2011.

Perry Warjiyo, Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter mengatakan, Bank Indonesia memperkirakan, inflasi inti (core inflation) 2011 tidak akan lebih dari 5% plus minus 1. Menurutnya, yang akan berpengaruh pada inflasi inti adalah kenaikan ekspetasi inflasi akibat kenaikan harga-harga pangan.

Pada 2009-2010, lanjut Perry, inflasi bisa terkendali antara lain karena apresiasi rupiah. Tapi, di 2011 telah terjadi kenaikan harga komoditas internasional dan domestik sehingga bisa mendorong inflasi (headline inflation yang menghitung total inflasi).

“Namun, untuk saat ini belum bisa mempengaruhi inflasi inti,” ujarnya. Sekadar catatan saja, inflasi inti adalah hitungan inflasi yang mengeluarkan faktor harga energi dan makanan yang cenderung bergerak volatile.

Selain itu, lanjut Perry, kecenderungan capital inflow dan surplus neraca pembayaran memang memicu penguatan rupiah. “Nah, bank sentral akan mencermati penguatan rupiah tersebut dengan dampaknya terhadap inflasi, ekspor-impor dan pertumbuhan ekonomi,” paparnya.

M Doddy Arifianto, ekonom senior Bank Mandiri memperkirakan, inflasi mencapai di atas 8% tahun ini bukan suatu hal yang mustahil. Bank Mandiri sendiri memproyeksikan inflasi 2011 mencapai 6,6%. Tapi, menurut Doddy angka tersebut upside bias. “Artinya, inflasi 2011 bisa lebih dari itu ke level 7%,” ucapnya.

Karena itu, jika headline inflasi telah memicu inflasi inti, harus diatasi kebijakan moneter. Saat ini, inflasi inti itu baru mencapai 4,28%. Kebijakan moneter seperti kenaikan suku bunga tidak diperlukan, jika pemerintah punya stok pangan yang melimpah terutama beras. “Masalahnya, pengumuman pemerintah soal stok kredibel atau tidak,” tukasnya.

Bambang Prijambodo, Direktur Perencanaan Makro Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan, inflasi akan lebih besar dari asumsi 5,3% dalam APBN 2011. Menurutnya, pemerintah akan menjaga sekuat tenaga agar harga-harga terkendali sehingga inflasi bisa di bawah 7% sepanjang 2011. “Saya sendiri memperkirakan, inflasi bisa mencapai 7% jika tidak ada langkah-langkah jitu,” paparnya.

Menurutnya, semua instrumen akan digunakan BI dan otoritas fiskal untuk meredam inflasi terutama yang dipicu faktor demand. Bambang menyarankan, apabila dirasa terjadi kelebihan likuiditas, suku bunga acuan (BI rate) juga perlu menyesuaikan. “Ini bisa dilihat dari jumlah uang yang beredar. Kapan timing-nya, teman-teman dari BI lebih memahami,” paparnya.

Eric Alexander Sugandi, ekonom Standard Chartered Bank memperkirakan, inflasi ini akan naik ke atas 5% di kuartal kedua atau ketiga 2011. Sebab pemerintah menerapkan pelarangan BBM bersubsidi bagi mobil pelat hitam mulai Maret mendatang. Sementara dari sisi headline inflation, juga akan terdorong kenaikan harga pangan terutama beras dan cabe. “Musim hujan akan berpengaruh pada gagal panen,” tutur Eric.

Dia memperkirakan, headline inflasi 2011 bisa mencapai 6,5% dan BI rate berpeluang naik ke level 7,50%. Tapi, Eric optimistis, GDP RI juga masih bisa tumbuh mencapai 6,50%. Artinya , RI akan tumbuh baik.

“Meskipun, lebih baik lagi jika inflasi tidak tinggi dan lebih baik juga jika hambatan dari sisi suplai terutama beras dan cabe bisa diatasi. Sebab, kemampuan BI terbatas meredam inflasi,” imbuh Eric.

Analis UOB Kay Hian Securities Gema Merdeka Goeyardi justru melihat positif atas melambungnya inflasi. Menurutnya, dengan pertumbuhan ekonomi sangat baik yang didorong demand begitu besar di seluruh sektor, mau tidak mau inflasi akan naik. Apalagi, inflasi yang terjadi di Indonesia tidak bergerak searah dengan tingkat pengangguran. “Ini merupakan hal positif,” ujarnya.

Artinya, Gema menegaskan, inflasi disebabkan karena daya beli masyarakat yang tinggi akibat pendapatan perkapita di 2010 sebesar US$3,000. Selain itu, faktor cuaca mempengaruhi terhambatnya logistik di Indonesia juga mendorong kenaikan harga-harga sembako, terutama beras (sekitar 6,3% bobotnya terhadap inflasi) yang memiliki share paling besar di dalam komponen inflasi Indonesia.

Ia memperkirakan, pada 2011, prediksi GDP growth 6,3% dan ekspektasi pendapatan perkapita pada US$3,800. Ini merefleksikan kondisi prima masyarakat Indonesia . Yang juga berpeluang meningkatkan laju inflasi.

Menurutnya, analisa Astronacci pada Indonesia consumer price index (CPI) menunjukkan, inflasi bergerak dalam sebuah impulsive bullish trend (Higher Peak and Trough) dan membentuk 5 wave sejak akhir 2009.

Berdasarkan target teoritis Wave 5 pada Extension Fibonacci 62%, dia melihat peluang inflasi Indonesia akan mencapai 8,2% dan minimum pada level 7,16%. “Perkiraan kami, kenaikan inflasi berpuncak di sekitar semester kedua 2011,” imbuhnya.

Menyikapi tingginya inflasi akhir-akhir ini, Komisi XI DPR membentuk panitia khusus (pansus) inflasi. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi XI DPR, Achsanul Qosasih di Jakarta, akhir pekan lalu.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, laju inflasi tahun kalender (Januari-Desember) 2010 dan laju inflasi year on year (Desember 2010 terhadap Desember 2009) masing-masing 6,96%. (ekonomi.inilah.com)

Bagi Info ini Di :

0 comments: