Thamrin Amal Tomagola Ucapan Pernyataan Prof Thamrin Amal Tomagola Yang Menyinggung Warga Masyarakat Dayak

Thamrin Amal Tomagola Ucapan Pernyataan Prof Thamrin Amal Tomagola Yang Menyinggung Warga Masyarakat Dayak - Sosiolog dari Universitas Indonesia Thamrin Amal Tomagola mendapat protes dari warga Dayak Kalbar karena perkataannya. Namun hari Sabtu 8 Januari 2011 Thamrin Amal Tomagola sidah menyampaikan permintaan maaf kepada Warga Dayak karena pernyataanya.


Inilah isi pernyataan Profesor Thamrin Amal Tomagola yang menyinggung masyarakat dayak. Seperti diketahui sebelumnya Profesor Thamrin Amal Tomagola, seperti yang dikutip kompas.com mengatakan video porno dengan pemeran mirip Ariel tidak meresahkan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat Indonesia menganggap hal itu biasa. Thamrin mengatakan contoh masyarakat yang tidak resah terhadap video tersebut adalah masyarakat suku Dayak, sejumlah masyarakat Bali, Mentawai, dan masyarakat Papua.

Ia mengatakan: "Dari hasil penelitian saya di Dayak itu, bersenggama tanpa diikat perkawinan oleh sejumlah masyarakat sana sudah dianggap biasa. Malah hal itu dianggap sebagai pembelajaran seks." Dalam aksi di Tugu Digulis massa membawa simbol-simbol seperti bendera dan menggunakan pakaian adat khasDayak . Saat berada di gedung DPRD, seorang mahasiswa dari PMKRI, Lidya, menyatakan agar Profesor Thamrin Amal Tomagola dihukum adat.

Salah satu ketua Majelis AdatDayak Nasional Yakobus Kumis menyatakan Thamrin layak dihukum adat paling tidak hukum akibat cakap mulut dan pelecehan terhadap masyarakatDayak.
http://masmintos.blogspot.com/2011/01/isi-pernyataan-profesor-thamrin-amal.html

Di kutip dari Metrotvnews.com tentang permintaan maaf dari Thamrin Amal Tomagola Sosiolog dari Universitas Indonesia. "Dengan segala kerendahan hati, saya mohon maaf sedalam-dalamnya karena telah menyinggung kehormatan warga Dayak," ujar Thamrin, Sabtu (8/1).

Thamrin mengaku, tak punya niat sedikit pun menginjak martabat warga Dayak. Apalagi selama ini dia menjunjung tinggi asas Bhineka Tunggal Ika. "Sampai kapan pun," terang dia.

Thamrin, dalam suratnya yang dikirim ke Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, coba menjelaskan duduk persoalan sesungguhnya. Sebab, menurut dia, pernyataannya di persidangan Ariel Peterpan, 30 Desember 2010, telah dikutip tanpa konteks oleh sebuah situs berita nasional.

"Dalam kesaksian saya, saya menekankan tiga nilai fundamental: kemajemukan, toleransi, dan penghormatan atas keunikan suatu budaya," beber Tamrin.

Lalu, tambah dia, "Saya mengacu pada temuan penelitian kualitatif saya sewaktu menjadi konsultan di Depertemen Transmigrasi pada 1982-1983 di Kalimantan Barat dan Papua Selatan. Pada masing-masing lokasi saya melalukan wawancara mendalam dengan 10 ibu usia subur sebagai informan saya. Kepada majelis hakim saya tegaskan bahwa atas dasar hanya 10 informan, temuan saya sama sekali tidak dapat digeneralisasi terhadap semua puak dan warga Dayak. Paling banter, temuan itu hanya sebagai petunjuk-petunjuk sementara yang masih perlu diuji lagi."

Sidang di mana Thamrin menjadi saksi ahli, berlangsung tertutup. Ketika menjelaskan kesaksiannya di luar sidang, Thamrin mengaku tak bisa secara lengkap bicara pada wartawan.

"Saya sangat menyesal tak menyiapkan penjelasan tertulis untuk dibagikan pada wartawan. Akhirnya yang termuat di media adalah kutipan sepotong-sepotong yang out of context," papar dia. Tapi Thamrin berjanji tak akan pernah mengulangi kesalahan itu di masa datang

Bagi Info ini Di :

0 comments: