Tempat Kuliner Di Yogyakata Daftar Tempat Makan Enak Kota Jogja

Tempat Kuliner Di Yogyakata Daftar Tempat Makan Enak Kota Yogyakarta - Sebagai kota budaya, kota pelajar juga menjadi salah satu daerah tujuan wisata indonesia, provinsi Yogyakarta seolah menyimpan sejuta pesona. Apalagi kalau mengunjungi tempat kuliner yang ada di Yogyakarta, pasti nyam nyam...Selain Malioboro yang terkenal sebagai salah satu tempat wisata di Yogyakarta karena di situ juga banyak penjual makanan atau oleh-oleh khas Jogja masih banyak tempat lain yang tak kalah menariknya untuk tujuan liburan Anda.


Selama ini kita lebih mengenal gudeg sebagai Makanan Khas Yogyakarta. Ga salah memang...tapi kalau untuk mencari makanan enak yang ada di Jogja/Yogyakarta tidak hanya cuma gudeg yang berasa manis tersebut. Masih banyak tempat kuliner di yogyakarta yang bisa memuaskan perut para pelancong yang mampir ke Yogya.

Berikut ini merupakan daftar beberapa tempat makan enak yang ada di Yogyakarta.
Mau cari makanan dengan menu daging ayam? coba saja kunjungi :

1.Ayam Goreng MBOK BEREK KALASAN
Lokasi di Jl. Raya Yogya – Solo Km 13,5 (samping RS. Panti Rini Ziekenhuis)
2.Ayam Goreng PAK NDUT
lokasi di Jl. C.Simanjuntak 29, Terban Yogyakarta
3.Ayam Goreng NYONYA PAWIRODIKORO
Lokasi di Jl Bantul Km 7 Yogyakarta (depan eks Pasar Niten lama)
4.Ayam Rendang PASAR KRANGGAN
Lokasi di Jl. Diponegoro (depan Pasar Kranggan
5.Ayam Bakar MAS PRI
Lokasi di Lap. Klebengan Yogyakarta (ada di depan Fakultas Peternakan UGM)
6.Ayam Goreng “MBOK BEREK PAWIRODIKORO“
Tempat di Jl. Pugeran Timur 24 Yogyakarta
7.Ayam Goreng PAK PARMAN
lokasi di Jl. Wonosari & Jl. Kaliurang Km 9 Yogyakarta

Yang suka BAKMI di sini tempatnya :
1.Bakmi GADJAH MADA LESTARI
Alamat di Jl Gejayan (Seberang Toko Buku Toga Mas)
2.Bakmi PAK WIR
Datang ke Jl. Ni Tjondro Lukito (perempatan Monjali ke arah Tugu)
3.Bakmi HELA
Tempat ada di Depan Bengkel Motor Pojok Beteng Kulon
4.Bakmi GATOT
Alamat di Jl Wonosari (Depan Polsek Banguntapan)
5.Bakmi PRAMBANAN
Lokasi di Utara Stasiun Prambanan

Pengen Makan BUBUR bisa coba di tempat berikut :
1.Bubur MAK NYUS
Alamat di Jl. Kaliurang Km 8 Yogyakarta (depan PLN)
2.Bubur Ayam SYARIFAH
Datang ke Jl. Kaliurang (selatan Bank Permata – deket pertigaan PPPG)
3.BUMBU PAWON ( khas jawa timur)
Lokasi di Jl. Demangan Baru 19 & Jl. Garuda 1 (utara wisma LPP – pertigaan gapura batas kota Jogja ke utara)

Pengen Makan Gudeg cari di sini :
1.Gudeg YU DJUM
Datang saja ke Jl. Kaliurang Km. 5 (masuk 25 meter dari jl. Kaliurang) & Utara Fakultas Kehutanan UGM (masuk 25m dari selokan mataram)
2.Gudeg KENTUNGAN
Alamat ada di Jl. Kaliurang Km. 5 (setelah perempatan Ring Road)
3.Gudeg PAWON
Lokasi ada di Jl. Janturan (sekitar Jl. Kusumanegara)
4.Gudeg JOGJA
Tempat ada di Jl. Malioboro (depan Honda Astra)
5.JOGLO RESTO
Alamat di Jl. Colombo No. 9 A Samirono

Setelah memanjakan perut Anda, bagi yang ingin menikmati suasana malam di Yogya bisa kunjungi  Tempat Hiburan Malam Yogya Daftar Tempat Dugem Clubbing Nongkrong Kongkow Asik Di Yogyakarta.  Jika Anda punya referensi dimanakah tempat wisata kuliner lainnya yang ada di Yogya Anda bisa menambajkannya melalui berika komentar di blog ini.

» Read More...

Makanan Khas Yogyakarta Daftar Nama Masakan Jajanan Kuliner Khas Asli Dari Yogyakarta

Makanan Khas Yogyakarta Daftar Nama Masakan Jajanan Kuliner Khas Asli Dari Yogyakarta - Provinsi Yogyakarta yang sering juga di sebut dengan kota budaya menjadi salah satu daerah tujuan wisata populer di Indonesia. Tak heran apa saja yang berhubungan dengan pariwisata di Yogyakarta menarik untuk di jelajahi termasuk dalam hal makanan khasn ya.

Yuk kita kenali  budaya indonesia, wisata indonesia dan  makanan khas indonesia yang berasal dari Yogyakarta.   Mungkin kebanyakan orang tahunya cuma gudeg Yogya yang memang sudah sangat terkenal tersebut. Tapi sebetulnya masih banyak nama makanan khas Yogya seperti kue tradisional Yogya, Masakan atau minuman asli khas dari Yogya, hingga jajanan atau kue tradisional dari yogya.


Yuk kita cari tahu daftar makanan, masakan, atau kue yang khas asli berasal dari Yogyakarta :

Masakan Makanan Kuliner Khas Asli Yogyakarta :

Gudeg Yogya / Gudeg Nangka
Buat penggemar kuliner nama Gudeg tentu sudah tidak asing di telinga. Nama Gudeg kalau dalam bahasa Jawa adalah gudheg, merupakan makanan khas yang berasal dari Yogyakarta dan Jawa Tengah. Makanan ini terbuat dari bahan nangka muda dan dimasak dengan santan. Untuk memperoleh rasa yang lezat dan enak di butuhkan waktu yang cukup lama hingga berjam-jam lamanya untuk membuat masakan ini.

Seringkali terlihat Gudeg memiliki warna coklat hal ini biasanya dihasilkan karena daun jati yang dimasak bersamaan. Biasanya dalam penyajiannya Gudeg dimakan dengan nasi panas dan disajikan dengan kuah santan kental, daging ayam kampung, telur ayam, tahu serta sambal goreng krecek.

Nah kalau Gudeg merupakan jenis masakan kuliner yang biasanya untuk acara makan besar, sekarng kita cari tahu nama makanan ringan, kue atau jejanan kuliner khas asli Yogya.

Kue Jajanan Khas Asli Yogyakarta

Bakpia Yogya
Kue atau jajanan Bakpia merupakan jenis makanan yang bahannya terbuat dari campuran kacang hijau dengan gula dan dibungkus dengan tepung kemudian dipanggang. Di setiap Kue Bakpia ini ada isinya. Isi bakpia juga bermacam-macam dan tidak hanya kacang hijau. Mungkin juga karena perkembangan dan agar tidak bosan. Jika Anda kebetulan pergi ke Yogya dan ingin membeli oleh oleh Bakpia ini ada beberapa rasa bakpia yang bisa di pilih di antaranya cokelat, rasa keju, kumbu hijau, atau kumbu hitam. Bakpia yang cukup populer dan dikenal salah satunya yang berasal dari daerah Pathok (Pathuk), Yogyakarta.

Sebetulnya masih banyak nama makanan dari yogya seperti Ampyang, Cemplon, Enting-enting, Geplak, Getuk, Ongol-ongol dan masih banyak lainya.

» Read More...

Tempat Hiburan Malam Yogya Daftar Tempat Dugem Clubbing Nongkrong Kongkow Asik Di Yogyakarta

Tempat Hiburan Malam Yogya Daftar Tempat untuk Dugem Clubbing Nongkrong Kongkow Asik Di Yogyakarta - Kota Yogya lebih menarik jika di datangi waktu malam hari. Salah satu tempat yang sangat populer di Yogyakarta adalah Jl Malioboro yang paling sering di kunjugi wisatawan lokal atau mancanegara.

Namun Yogya tidak hanya Malioboro. Kota budaya ini terlihat hidup maktu melem menjelang. Dimanakah tempat yang menarik untuk menikmati malam di Yogya? Berikut ini daftar tempat hiburan malam yang bisa Anda kunjungi :

Cafe
1. Empire Cafe ( Perempatan Gejayan / Ringroad )
2. Jendela Cafe ( Toko Buku Toga Mas )
3. Kedai Kopi ( Jl. Selokan UGM belakang Mirota Gejayan )
4. Cheer’s Cafe ( Jl. Selokan UGM belakang Mirota Gejayan )
5. Momento ( Sebelah LIA Jembatan Merah )
6. Snap Cafe ( sebelah selatan pertigaan samirono )
7. Beyond Cafe
8. Moviebox Cafe
9. Hugo’s Cafe
Alamat : Jl.Laksda Adisucipto km 8,7 Komp. Sheraton Mustika Hotel Yogyakarta
Telp : 0274-484204
10. Caesar Cafe n Lounge
Alamat : Plaza Ambarrukmo Lt. 3, Jl. Laksda Adisucipto
Telp : (0274) 4331020,
Fax : (0274) 4331021
11. Liquid Cafe (RECOMENDED)
Alamat : Jl. Magelang Km 5,5
Telp : (0274) 622020
12. Embassy Café
Alamat : Sheraton Hotel, Jl. Laksda Adisucipto Km 8,7.
13. Republic Cafe
Alamat : Natour Hotel Garuda Yogyakarta, Jl. Malioboro No. 62, Yogyakarta
Telp : (0274) 519773

Daerah Sagan
1. Gabah Resto ( Jl Dewi Sartika, belakang SMU 9 Jogja )
2. OWN Cafe ( Jl. Dewi Sartika, belakang SMU 9 Jogja )
3. Rumah Kopi ( Jl. Sagan, sebelah hotel indraloka )
4. Rumah Cokelat Jl. Cik Di Tiro, sebelah lab Pramitha )
5. Dekat Rumah ( sebelah Hotel Galuh, SMU 9 Jogja
6. Bella Viesta ( Sebelah LIP – lembaga Indonesia Prancis )
7. Bengawan Solo Cafe ( perempatan pom bensin Sagan, sebelah Wisma MM UGM )

Daerah Seturan Condongcatur Sleman

1. Gubug Kopi
2. Sky Garden
3. Grissee
4. Warung Lenggahan
5. Rumah Kopi
6. Angkringan Cafe

Daerah Nologaten Condongcatur
1. B-Jonk ( Jl. Nologaten, belakang Ambarukmo Plaza )
2. Kopi Plus ( sebelah barat pertigaan Pringwulung)
3. Kedai Nusantara ( Jl. Nologaten, belakang Ambarukmo Plaza )
4. Kedai Pendekar ( Selokan Mataram, Pringwulung )

5.Kopi Balndongan (Daerah sorowajan, selatan Amplaz)

Jl. Kaliurang
1. Kedai Kopi ( Perempatan Kentungan )
2. Book Point ( Depan Superindo Jakal KM 7 )
3. Lor Kali ( Perempatan MM UGM, Belakang Artha Digital )

4.AQEELA COFFEE RESTO (JL.KALIURANG KM 6,3 NO 5 Yogyakarta / Utara Superindo Jakal)
5. Ningratri (Barat Rumah Makan Sederhana)

Jl. Solo
1. Oh lala Cafe ( Saphir Square )
2. V-Art Cafe ‘n Galery ( Sebelah museum Affandi, sebelah KFC UIN )
3. Relax Cafe ( Sebelah museum Affandi, sebelah KFC UIN )
4. Banaran Cafe ( Wisma LPP Jl. Solo)

Jogja Selatan(Juga sering untuk nongkrong bule)

1. Sepanjang Jl Prawirotaman (Janur Cafe, Renzo Cafe, Via Via Cafe)

2. Sepanjang Jl Parangtritis (Banana Cafe, Ruis Cafe, Made Cafe)

3.Sepanjang Jl Tirtodipuran (Kedai Kebun)




» Read More...

Budaya Yogyakarta Kebudayaan DIY Daerah Isteimewa Yogyakarta

Budaya Yogyakarta Kebudayaan DIY Daerah Isteimewa Yogyakarta - Propinsi Yogyakarta sering di sebut sebagai kota budaya. Daerah ini memang sangat terkenal memiliki kekayaan budaya yang beragam.

Dalam hal kebudayaan propinsi Yogyakarta masih sangat kental dengan budaya Jawanya. Dalam kehidupan sehari-hari seni dan budaya seolah tak terpisahkan dan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Terbukti mulai masih kanak-kanak sampai dewasa, banyak masyarakat Yogyakarta sangat sering menyaksikan dan mengikuti beraneka ragam acara kesenian dan kebudaya di kota ini.

Tradisi selalu di pertahankan oleh kebanyakan masyarakat Yogyakarta. Bahkan setiap tahapan kehidupan mempunyai arti tersendiri. Nilai-nilai tradisional selalu mewarnai upacara-upacara adat budaya Yogya. Bagi masyarakat propinsi Yogyakarta, seni dan budaya sudah menjadi satu bagian yang seolah tak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Salah satu kesenian khas daerah Yogyakarta antara lain kethoprak, ada juga jathilan, serta wayang kulit yang sudah menyatu menjadi bagian budaya Indonesia. Selain itu propinsi Yogyakarta juga sudah dikenal dalam pembuatan pakaian tradisional dengan dengan cara dan gaya yang unik seperti batik kain dicelup.

Dalam berkomunikasi, bahasa pengantar sehari-hari umumnya masyarakat Yogyakarta menggunakan bahasa Jawa. Propinsi Yogyakarta merupakan salah satu pusat bahasa dari sastra Jawa seperti bahasa parama sastra, ragam sastra, bausastra, dialek, sengkala serta lisan dalam bentuk dongeng, japamantra, pawukon, dan aksara Jawa.

Untuk melestarikan budaya Yogya terdapat prasarana budaya sebagai penunjang terhadap kelestarian serta pengembangan kreativitas seniman Yogyakarta dan hingga sekarang terdapat 130 buah prasarana seperti panggung kesenian, pendopo, ruang pameran, ruang seni pertunjukan, studio musik balai desa, auditorium, sanggar seni, lapangan dll.

» Read More...

Keistimewaan Yogyakarta Sejarah Propinsi DIY Daerah Istimewa Yogyakarta

Keistimewaan Yogyakarta Sejarah Propinsi DIY Daerah Istimewa Yogyakarta - Daerah Yogyakarta merupakan salah satu propinsi Indonesia yang memiliki keistimewaan seperti halnya Daerah Istimewa Aceh di pulau Sumatera.


Artikel sumber dari Kompas.com Keistimewaan Yogyakarta tidak patut dipertanyakan lagi. Pemerintah pusat juga tidak sepatutnya menyebut Keraton Yogyakarta sebagai bagian dari monarki. ”Mereka yang mempertanyakan keistimewaan Yogyakarta tidak mengerti sejarah dan sumbangsih Yogyakarta,” kata sosiolog Hotman Siahaan dari Unair Surabaya, Senin (29/11/2010).

Menurut Hotman, menilai sistem pemerintahan di Provinsi DIY bersifat monarki jelas salah alamat. Kalau toh ada anggapan monarki, istilah itu dalam konteks simbolisasi kultural Jawa. Monarki itu jelas bukan monarki politik.

”Pemerintahan di Yogyakarta menerapkan semua prinsip demokrasi dan administrasinya seperti halnya provinsi lain. Karena itu, tidak tepat jika Presiden tidak segera mengesahkan keistimewaan Yogyakarta.”

Senada dengan Hotman, pakar hukum tata negara UAJY Hestu Cipto Handoyo menilai Amanat 5 September 1945 menguatkan status keistimewaan DIY dari sisi hukum dan historis.

Mayoritas fraksi di DPR pun menyepakati penetapan Sultan HB dan Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DIY. Selain diinginkan rakyat, konstitusi juga telah menjamin keistimewaan sebuah daerah sehingga penetapan Sultan dan Paku Alam sebagai kepala daerah bukanlah bentuk monarki politik.

Anggota Komisi II dari F-PDIP Arif Wibowo di Jakarta menyatakan, keistimewaan sebuah daerah sudah dijamin dalam konstitusi, tepatnya dalam Pasal 18 UUD 1945.

Sekretaris F-PAN Teguh Juwarno menambahkan, Pemprov DIY tidak menganut sistem monarki. Kedudukan Gubernur dan Wagub DIY sama persis dengan gubernur-wagub di daerah lain.

Sementara anggota Komisi II dari F-Partai Golkar Idrus Marhan mengatakan, seharusnya DIY tetap tunduk pada UU Pemerintahan Daerah, dan gubernur-wagub ditetapkan melalui pemilihan langsung dalam pilkada. ”Saya setuju dengan keistimewaan Yogya. Tetapi keistimewaannya itu pada budaya, bukan pada tata kelola pemerintahan,” katanya.

Namun, mantan anggota Komisi II DPR dari F-Partai Golkar, Ferry Mursyidan Baldan, mengatakan keistimewaan Yogyakarta tidak boleh dihilangkan.

Sebelumnya, beberapa media memberitakan, terkait penyusunan Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) DIY, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat membuka rapat kabinet terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (26/11/2010), menyatakan, nilai-nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan, baik dengan konstitusi maupun dengan nilai-nilai demokrasi.

Pemerintah pusat harus menjamin status keistimewaan bagi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tetap dipertahankan. Jaminan itu penting sejalan dengan kian dekatnya masa jabatan periode kedua Gubernur DIY dan Wakil Gubernur DIY, yang dijabat Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam IX, yang berakhir pada 9 Oktober 2008.

Pemerintah pusat juga menjanjikan perpanjangan masa jabatan gubernur dan wagub sampai undang-undang (UU) yang mengatur keistimewaan DIY secara detail selesai. Minggu (28/9), anggota DPRD DIY, Heru Wahyukismoyo, menyebutkan, pemilihan kepala daerah secara langsung sebenarnya tak sejalan dengan Sila IV Pancasila, yakni musyawarah dan mufakat sebagai amanat demokrasi Pancasila. Jadi, jika gubernur-wakil gubernur DIY tak dipilih secara langsung, bukan pelanggaran atas konstitusi. ”Turbulensi politik ini akibat reformasi konstitusi yang tidak konsisten dengan akar kebangsaan,” katanya.

Guru besar sejarah Universitas Gadjah Mada, Joko Suryo, menuturkan, salah satu sisi yang harus menjadi pertimbangan penting dalam pembahasan keistimewaan DIY adalah konteks sejarah yang melatarbelakanginya. ”Hanya dengan menilik sejarah berdirinya Keraton Yogyakarta dan penggabungannya ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kita akan bisa mendapat gambaran lengkap tentang makna keistimewaan DIY itu,” ujarnya.

Dari segi kesejarahan, Joko mengatakan, Kesultanan Yogyakarta ada lebih dahulu dibandingkan NKRI. Pada masa kolonial, sultan diakui otoritasnya sebagai penguasa wilayah Yogyakarta. ”Ini berbeda dengan kekuasaan monarki lainnya di Nusantara yang setelah ditaklukkan langsung dihapuskan Belanda,” katanya.

Hal itu, kata Joko, tak terlepas dari ikatan kuat antara sultan sebagai pengayom dan rakyat sebagai kawulanya. ”Berdasarkan pertimbangan penasihat pemerintahan kolonial saat itu, penghapusan kesultanan justru akan berpotensi besar menimbulkan gejolak di masyarakat,” katanya. Hal serupa juga berlanjut pada masa penjajahan Jepang ketika Kesultanan Yogyakarta berstatus daerah istimewa yang memiliki pemerintahan otonom.

Selo Soemardjan dalam bukunya, Perubahan Sosial di Yogyakarta, pun menjelaskan, ketika Jepang datang menggantikan Belanda untuk menjajah negara ini tahun 1942, Sultan Hamengku Buwono (HB) IX meminta agar diperbolehkan memerintah rakyat Yogyakarta secara langsung, tidak melalui pepatih dalem. Jepang meluluskan permintaan itu, bahkan melantik untuk kedua kalinya Raja Keraton Yogyakarta HB IX agar kokoh kedudukannya. Jepang memberi istilah Koti atau Daerah Istimewa Yogyakarta untuk diperintah HB IX.

Ikatan kuat antara raja dan rakyat itu, kata Joko, terus berlangsung hingga zaman modern. Salah satu yang menonjol adalah pada masa kepemimpinan HB IX, yang dinilai sebagai pemimpin yang benar-benar menunjukkan karakter kerakyatannya.

Mengenai konteks keistimewaan pada masa kemerdekaan, Joko melihat hal itu jelas tercantum dalam Amanat 5 September 1945 yang dikeluarkan HB IX dan Paku Alam (PA) VIII. Amanat itu menyatakan penggabungan diri Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke dalam NKRI dengan status daerah istimewa yang memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur wilayahnya.

Amanat itu dijawab Presiden Soekarno dengan menyerahkan Piagam Kedudukan kepada HB IX dan PA VIII sebagai tanda persetujuannya pada 6 September 1945 (tertanggal 19 Agustus 1945). Hal itu juga tercantum dalam Pasal 18 UUD 1945, sebelum perubahan, yang menyatakan, negara menghormati daerah yang memiliki status istimewa.

Dari tinjauan ini, Joko menilai, secara historis, sosiologis, dan politis, pemerintahan di bawah kepemimpinan sultan adalah sistem yang paling tepat bagi Yogyakarta. ”Pemerintahan sultan menciptakan stabilitas bagi masyarakat Yogyakarta. Kalau sistem itu diganti, justru bisa menyebabkan instabilitas,” katanya.

Ketua Senat Akademik UGM Sutaryo mengatakan, tak bisa dimungkiri, ruh keistimewaan DIY adalah kepemimpinan sultan sebagai kepala daerah. ”Tanpa itu, keistimewaan tidak ada maknanya,” katanya. Ketua DPRD DIY Djuwarto berharap pemerintah pusat segera mengesahkan perpanjangan jabatan gubernur sebelum masa jabatan Sultan HB X habis. ”Hal ini untuk menghindari vakum kekuasaan di DIY,” katanya.

Mengenai Rancangan Undang- Undang Keistimewaan DIY, Djuwarto mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir karena Komisi II DPR berjanji akan membuka ruang sebesar-besarnya bagi aspirasi masyarakat Yogyakarta.



» Read More...